ARAKUNDOE DALAM PUISI PILO POLY


ARAKUNDOE ALBUM PUISI PILO POLY
YANG KAYA DENGAN SEJARAH DAN BUDAYA INDONESIA, SERTA ROMANTISME TERHADAP TUHAN DAN MANUSIA.
Oleh Neni Yulianti (Cirebon)


Membaca puisi Arakundoe dalam album puisi Pilo Poly sangat membuat saya tertarik dengan melihat judulnya yang unik "Arakundoe", saya lantas googling apa itu Arakundoe yang memang saya sendiri masih awam dengan judul tersebut. Ternyata Arakundoe adalah sebuah peristiwa pembantaian sipil yang dilakukan oleh aparat keamanan yang terjadi pada tanggal 4 Februari 1999 di Idi Cut, Aceh, Indonesia yang telah menewaskan 7 orang dan melukai ratusan orang lainnya dan jenazah korban tersebut telah diceburkan di sungai yang bernama Arakundoe.

ARAKUNDOE

Yang tak berhenti,
adalah bunyi suara malam di Arakundoe.
Malam keluar dari dirinya sendiri, ingin
Menjelma menjadi yang lain,
yang mampu menenangkan
Betapa risaunya magrib menyambut kengerian

Sungai-sungai
juga buru-buru keluar dari ceruk lumpur,
tempat aduh dan derajat mengalir tanpa ditebus,
tanpa dimandikan takbir dan doa kepergian,
sebagai syarat seseorang telah tiba pada kata selesai,
dan berhenti membenci rasa sakit demi sakit

tak ada yang tahu, apakah kata-kata biak
sebelum daftar disahkan. Daftar nama-nama
yang akan naik ke langit. Tempat seluruh
hajad terakhir dihidangkan.


Jakarta, 2018

Ketiga bait sajak tersebut melukiskan apa yang dirasakan penduduk Aceh pada masa itu. Penyair menuangkan semua peristiwa berdarah di Arakundoe pada sajaknya yang sangat mengerikan agar pembaca mau mengenang sejarah Aceh dan tidak melupakan begitu saja sejarah Aceh. Penyair menggambarkan kengerian yang tampak pada malam berdarah dengan tujuan agar peristiwa berdarah itu tidak lagi kembali terulang di masa depan.
Penyair (Pilo Poly) memberikan beberapa latar Aceh di album puisinya selain puisi Arakundoe yaitu di antaranya Cot Keng, 1991 yang lebih mengejutkan pembaca dengan memberikan metafora yang tidak basi dan disentuh dengan diksi yang baik. Sehingga pembaca mengakhiri rasa penasarannya dengan menuntaskan  membaca buku Arakundoe ini sampai akhir.
Pada sajaknya yang lain Pilo Poly menekankan bahwa kehidupan ini dirasakan menemukan kebahagiaan bila manusia hanya dengan mencintai Tuhannya.

HANYA DENGAN MENCINTAIMU

Hanya dengan mencintaimu Tuhan, aku tidak perlu duit, rumah mewah dan mobil bagus.
Aku bisa kapan saja masuk kedalam rumahmu,
meskipun aku datang dengan sandal jepit,
dan badan penuh keringat.
Hanya dengan mencintaimu saja, Tuhan
aku merasa cintaku terbalas, lebih dari itu
yang kuinginkan dan harapkan.
Hanya dengan mencintaimu, Tuhan.
Maka cinta seberat apapun akan dapat
kuarungi meski ombak badai menghantam.

JAKARTA, 2018

Sangat menarik untuk direnungi apakah tujuan, visi, dan misi hidup kita di dunia ini. Sebuah puisi yang menggunakan aku sebagai puisi larik mencerminkan gambaran perasaan umum manusia di kehidupan yang fana dengan hanya mencintai Tuhannya, akan menemukan semua cinta dan kebahagiaan walaupun di kehidupan telah banyak ujian dan cobaan yang menghadang.
Secara umum sajak-sajak Pilo Poly ditampilkan secara komunikatif dan pola ucap yang nikmat dibaca serta metafora yang unik. Sehingga saya sebagai pembaca turut larut dalam proses perenungan penyair dan segala pengalaman spiritualnya. Sukses selalu Pilo Poly!

Akun Social Media Neni Yulianti:

Comments

Popular posts from this blog

NENI YULIANTI PENYAIR CIREBON

Install dan Mengaktifkan Bandicam Tanpa Watermark

NENI YULIANTI PUISI MEDIA INDONESIA 7 OKTOBER 2018 (Penjual Tawa dan Kunang-kunang, Bulan dan Bayangan, Angin September, Setetes Embun, Mata yang Bersuara, Hidup, dan Tumbuh)